Halo sobat!!!
Selamat datang di
blogku J
Terimakasih sudah mau
mampir di blog ini yah sobat sobat ku
Sekarang
aku ingin membahas nih tentang obat tradisional yang ada di alam dan bisa
menjadi tanaman obat keluarga (Toga) sebenarnya sih banyak tanaman tanaman di
alam ini yang bisa dijadikan obat obatan tradisional,tapi untuk kali ini
aku ingin membahas tentang apasih itu
tanaman sambiloto. kalian pasti
banyak yang belum mengetahui apa sih itu sambiloto? apakah kamu tahu bahwa
sambiloto itu adalah tanaman obat yang memiliki banyak manfaat loh ,sebelum ke
manfaat mari kita kenalan dengan sambiloto ini.
PENDAHULUAN
Pendahuluan Herba sambiloto
(Andrographis paniculata Nees, Acanthaceae) merupakan salah satu bahan obat
tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia. Dalam buku resmi tanaman
obat Indonesia(Departemen Kesehatan RI,1997) herba sambiloto digunakan sebagai
diuretika dan antipiretika, sedangkan pustaka lain menyebutkan bahwa herba
sambiloto yang digunakan bersamasama dengan kumis kucing (Orthosiphon
stamineus) diindikasikan sebagai obat kencing manis(Heyne,1987). Efek
analgetik, antipiretik dan antiulserogenik dari isolat andrografolida, suatu
glikosida diterpenoid yang diperoleh dari herba sambiloto telah dilaporkan(Madav,
1995). Ekstrak etanol dan andrografolida dari herba sambiloto juga menunjukkan
aktivitas pada hepatitis yang disebabkan oleh Plasmodium berghei5). 13 14 JMS
Vol. 6 No. 1, April 2001 Adanya efek antidiabetes dari herba sambiloto telah
ditunjukkan baik pada kelinci maupun penderita diabetes. Namun demikian, baik
ekstrak segar maupun ekstrak keringnya mempunyai efek yang kurang
menguntungkan, yaitu menunjukkan daya inhibisi terhadap respirasi jaringan6).
Pada pengujian dengan menggunakan uji toleransi glukosa, komponen non-polar
dari herba sambiloto tidak menunjukkan adanya aktivitas sebagai penurun gula
darah. Efek sebagai penurun gula darah ditunjukkan oleh komponen polar, yaitu
ekstrak etanol yang diperoleh dari serbuk yang telah diekstraksi secara
berturut-turut dengan heksana dan etilasetat(Soetarno,dkk,1999).Sebagai
kelanjutan dari penelitian sebelumnya, dalam penelitian ini ekstrak etanol
herba sambiloto diuji aktivitas hipoglisemiknya dengan menggunakan uji
toleransi glukosa pada tikus. Pada uji ini, induksi hiperglisemia dilakukan
dengan pemberian glukosa dosis tinggi yang akan meningkatkan konsentrasi glukosa
darah yang sifatnya sementara. Kalau pada percobaan sebelumnya digunakan satu
dosis, yaitu 0,5 g/kg bb, pada percobaan ini digunakan tiga dosis, yaitu: 0,5;
1,0 dan 2,0 g/kg bb. Pengujian juga dilakukan terhadap mencit diabetes yang
diinduksi dengan aloksan. Pemberian aloksan dosis tertentu akan menyebabkan
kerusakan seluruh sel-sel β-pulau Langerhans. Bila terjadi kerusakan seluruh
sel β maka akan terjadi diabetes permanen. Tetapi untuk penelitian ini
digunakan dosis yang lebih rendah, sehingga hanya merusak sebagian sel β-pulau
Langerhans. Dosis aloksan yang dipilih adalah 70 mg/kg bb8). Mencit dibiarkan
selama satu minggu, kemudian untuk percobaan dipilih yang bobotnya tidak
berkurang sebanyak lebih dari atau sama dengan 10% akan tetapi kadar gula darahnya
tetap tinggi. Senyawa kimia lain yang banyak digunakan untuk menginduksi
kerusakan sel β adalah streptozotosin9). Sambiloto ( Andrographis paniculata Nees.) ialah tumbuhan
semusim yang termasuk dalam famili Acanthaceae. Sambiloto ialah herba tegak, tumbuh
secara alami di daerah dataran rendah hingga ketinggian ± 1600 m dpl. Sambiloto
tergolong tanaman terna (perdu) yang tumbuh di berbagai habitat, seperti
pinggiran sawah, kebun, atau hutan. Komponen utama sambiloto adalah
andrographolide yang berguna sebagai bahan obat. Disamping itu, daun sambiloto
mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin. Kandungan kimia lain yang
terdapat pada daun dan batang adalah laktone, panikulin, kalmegin dan hablur
kuning yang memiliki rasa pahit. Secara tradisional sambiloto telah
dipergunakan untuk pengobatan akibat gigitan ular atau serangga, demam,
disentri, rematik, tuberculosis, infeksi pencernaan, dan lain-lain. Sambiloto
juga dimanfaatkan untuk antimikroba/antibakteri, anti sesak napas dan untuk
memperbaiki fungsi hati (Yusron et al, 2005). Mengingat kandungan dan fungsi
tanaman tersebut, saat ini sambiloto banyak diteliti untuk dikembangkan sebagai
bahan baku obat modern, diantaranya pemanfaatan sambiloto sebagai obat HIV dan
anti kanker. Dewasa ini masyarakat cenderung mengkonsumsi obat secara alami
yaitu berasal dari tanaman. Hal tersebut disebabkan obat yang berasal dari
tanaman mempunyai efek samping (side effect) lebih kecil dibandingkan obat
berasal dari bahan kimia dan harga lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua
bagian tanaman sambiloto, seperti daun, batang, bunga dan akar, terasa sangat
pahit jika dimakan atau direbus untuk diminum.
ISI
Tanaman
sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman yang
digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tanaman yang berkhasiat sebagai
antiradang, antiinflamasi, dan antipiretik adalah daun sambiloto. Daun
sambiloto memiliki kandungan kimia diantaranya deoksiandrografolid,
andrografolid, noeandrografolid, 12 didehidroandrografolid, dan
homoandrografolid (Hariana, 2006). Pada percobaan farmakologis senyawa kimia
yang berkhasiat sebagai antiradang adalah andrographolid, deoksi-andrografolid,
dan neoandrografolid (Achmad et al., 2007).
Sambiloto dapat tumbuh secara alami
dari dataran pantai sampai dataran tinggi dengan iklim serta kondisi jenis
tanah yang beragam (Yusron, 2008). Tanaman sambiloto dapat tumbuh pada semua
jenis tanah, mulai dari jenis tanah yang subur, mengandung banyak humus. Tata
udara dan pengairan yang baik (Pujiasmanto et al., 2007).
Sambiloto pada umumnya tumbuh di alam yang ternaungi di bawah tegakan hutan
(Yusron, 2008).
Klasifikasi
Tanaman Kingdom :
Plantae Divisi :
Spermatophyta
Sub Divisi :
Angiospermae 6
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Solanaceae
Famili : Acanthaceae
Genus : Andrographis
Spesies : Andrographis
paniculata (Burm. f.) Nees (Ratnani dkk., 2012).
Daun
tumbuhan sambiloto yang memiliki sifat kimiawi berasa pahit, dingin, memiliki
kandungan kimia sebagai berikut: daun dan percabangannya mengandung lakton yang
terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid,
14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid dan homoandrografolid (Yuniarti, 2008).
Terdapat juga flavonoid, tanin, alkana, keton, aldehid, mineral kalium (Yuniarti,
2008). Akarnya mengandung flavotioid, yang hasil isolasinya terbanyak adalah
polimetoksiflavon, andrografin, panikulin, mono-0-metilwithin dan
apigenin-7,4-dimetileter (Yuniarti, 2008).
KESIMPULAN
Tanaman
sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman yang digunakan
sebagai obat tradisional. Bagian tanaman yang berkhasiat sebagai antiradang,
antiinflamasi, dan antipiretik adalah daun sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan
kimia diantaranya deoksiandrografolid, andrografolid, noeandrografolid, 12
didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Pada percobaan farmakologis
senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antiradang adalah andrographolid,
deoksi-andrografolid, dan neoandrografolid .
Sambiloto(Andrographis paniculata (Burm.
f.) Nees) mengandung senyawa diterpene, lactone, dan
flavonoid. Empat senyawa lakton yang ditemukan di dalam daun sambiloto ,
yaitu deoxyandrographolide, andrographolide, neoandrographolide dan 14- deoxy-11, 12-didehydroandrographolide. Senyawa
flavonoid banyak ditemukan pada bagian akar, tetapi juga dapat ditemukan pada
bagian daun. Bagian akar dari tanaman sambiloto, mengandung senyawa flavonoid
berupa polymethoxyflavone andrographine, panicoline, alkane, keton, aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam
kersik, monometilwithin, dan apigenin-7,4-dimetil eter.
Bagian batang dan daun dari tanaman sambiloto mengandung senyawa alkane, keton dan aldehid.
Cara pengobatan
yang efektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus selain obat-obatan sintetik,
kini banyak dikenal obat-obat antidiabetik herbal seprti ekstrak etanol herba
sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan orthosiphon glukosa, minyak
atsiri, saponin, polifenol, flavonoid, sapofonin, garam kalium dan myonositol.
Andrografolid merupakan kandungan utama dari herbal sambiloto yang dapat
meningkatkan penggunaan glukosa otot pada tikus yang dibuat diabetes dengan
streptozotosin (STZ) melalui stimulasi glucose transporter-4 (GLUT-4) sehingga
menurunkan kadar glukosa plasma tikus.
SARAN
Semoga lebih di kembangkan lagi manfaat dari daun sambiloto
untuk para generasi selanjutnya karena saya yakin masih banyak manfaatnya dan
harus banyak mencari referensi dari daun sambiloto.
Daftar pustaka
Departemen
Kesehatan RI, 1995, Farmakope Herbal Indonesia. Edisi IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Dewi,
N. (2013). Khasiat & Cara Olah Sambiloto untuk Menumpas Berbagai Penyakit.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Heyne,
K.,1987,Tumbuhan Berguna Indonesia, Volume II, Yayasan Sarana Wana Jaya :
Diedarkan oleh Koperasi Karyawan, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.
Madhav,
Apsara dan P. B. Pushpalatha. 1995. Characterization of Pectin Extracted from
Different Fruit Wastes. Journal of Tropical Agriculture, 40 (1995) : 53 - 55.
Media Litbangkes.
2016.Vol. 26 No. 2 HAL 77 - 84
Prapanza
E. Dan Marianto LM. (2003). Khasiat & Manfaat Sambiloto: Raja Pahit
Penakluk Aneka Penyakit. AgroMedia Pustaka. Hal: 3–9.
Ratnani
DR., Hartati, I., Kurniasari, L., 2012, “Potensi Andrographolide dari Sambiloto
(Andrographis Paniculata Ness) Melalui Proses Ekstraksi Hidrotropi” Majalah
Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang, Momentum Vol 8, april
2012.
Sutarno, T. 1999.
Budidaya Ternak Perah. Universitas Terbuka. Jakarta.
Widyawati,
T. 2007. Aspek Farmakologis Sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Majalah
Kedokteran Nusantara Volume 40, No.3.
Yusron
M, M. Januwati M, E. R. Pribadi. 2005. Budidaya tanaman sambiloto. Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian . Bogor
Yuniarti,
T, Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional, Cetakan Pertama MedPress,
Yogyakarta.2008

