Minggu, 28 Juni 2020

sambiloto

Halo sobat!!!

Selamat datang di blogku J

Terimakasih sudah mau mampir di blog ini yah sobat sobat ku

            Sekarang aku ingin membahas nih tentang obat tradisional yang ada di alam dan bisa menjadi tanaman obat keluarga (Toga) sebenarnya sih banyak tanaman tanaman di alam ini yang bisa dijadikan obat obatan tradisional,tapi untuk kali ini aku  ingin membahas tentang apasih itu tanaman sambiloto. kalian pasti banyak yang belum mengetahui apa sih itu sambiloto? apakah kamu tahu bahwa sambiloto itu adalah tanaman obat yang memiliki banyak manfaat loh ,sebelum ke manfaat mari kita kenalan dengan sambiloto ini.

 

 

PENDAHULUAN

Pendahuluan Herba sambiloto (Andrographis paniculata Nees, Acanthaceae) merupakan salah satu bahan obat tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia. Dalam buku resmi tanaman obat Indonesia(Departemen Kesehatan RI,1997) herba sambiloto digunakan sebagai diuretika dan antipiretika, sedangkan pustaka lain menyebutkan bahwa herba sambiloto yang digunakan bersamasama dengan kumis kucing (Orthosiphon stamineus) diindikasikan sebagai obat kencing manis(Heyne,1987). Efek analgetik, antipiretik dan antiulserogenik dari isolat andrografolida, suatu glikosida diterpenoid yang diperoleh dari herba sambiloto telah dilaporkan(Madav, 1995). Ekstrak etanol dan andrografolida dari herba sambiloto juga menunjukkan aktivitas pada hepatitis yang disebabkan oleh Plasmodium berghei5). 13 14 JMS Vol. 6 No. 1, April 2001 Adanya efek antidiabetes dari herba sambiloto telah ditunjukkan baik pada kelinci maupun penderita diabetes. Namun demikian, baik ekstrak segar maupun ekstrak keringnya mempunyai efek yang kurang menguntungkan, yaitu menunjukkan daya inhibisi terhadap respirasi jaringan6). Pada pengujian dengan menggunakan uji toleransi glukosa, komponen non-polar dari herba sambiloto tidak menunjukkan adanya aktivitas sebagai penurun gula darah. Efek sebagai penurun gula darah ditunjukkan oleh komponen polar, yaitu ekstrak etanol yang diperoleh dari serbuk yang telah diekstraksi secara berturut-turut dengan heksana dan etilasetat(Soetarno,dkk,1999).Sebagai kelanjutan dari penelitian sebelumnya, dalam penelitian ini ekstrak etanol herba sambiloto diuji aktivitas hipoglisemiknya dengan menggunakan uji toleransi glukosa pada tikus. Pada uji ini, induksi hiperglisemia dilakukan dengan pemberian glukosa dosis tinggi yang akan meningkatkan konsentrasi glukosa darah yang sifatnya sementara. Kalau pada percobaan sebelumnya digunakan satu dosis, yaitu 0,5 g/kg bb, pada percobaan ini digunakan tiga dosis, yaitu: 0,5; 1,0 dan 2,0 g/kg bb. Pengujian juga dilakukan terhadap mencit diabetes yang diinduksi dengan aloksan. Pemberian aloksan dosis tertentu akan menyebabkan kerusakan seluruh sel-sel β-pulau Langerhans. Bila terjadi kerusakan seluruh sel β maka akan terjadi diabetes permanen. Tetapi untuk penelitian ini digunakan dosis yang lebih rendah, sehingga hanya merusak sebagian sel β-pulau Langerhans. Dosis aloksan yang dipilih adalah 70 mg/kg bb8). Mencit dibiarkan selama satu minggu, kemudian untuk percobaan dipilih yang bobotnya tidak berkurang sebanyak lebih dari atau sama dengan 10% akan tetapi kadar gula darahnya tetap tinggi. Senyawa kimia lain yang banyak digunakan untuk menginduksi kerusakan sel β adalah streptozotosin9). Sambiloto ( Andrographis paniculata Nees.) ialah tumbuhan semusim yang termasuk dalam famili Acanthaceae. Sambiloto ialah herba tegak, tumbuh secara alami di daerah dataran rendah hingga ketinggian ± 1600 m dpl. Sambiloto tergolong tanaman terna (perdu) yang tumbuh di berbagai habitat, seperti pinggiran sawah, kebun, atau hutan. Komponen utama sambiloto adalah andrographolide yang berguna sebagai bahan obat. Disamping itu, daun sambiloto mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin. Kandungan kimia lain yang terdapat pada daun dan batang adalah laktone, panikulin, kalmegin dan hablur kuning yang memiliki rasa pahit. Secara tradisional sambiloto telah dipergunakan untuk pengobatan akibat gigitan ular atau serangga, demam, disentri, rematik, tuberculosis, infeksi pencernaan, dan lain-lain. Sambiloto juga dimanfaatkan untuk antimikroba/antibakteri, anti sesak napas dan untuk memperbaiki fungsi hati (Yusron et al, 2005). Mengingat kandungan dan fungsi tanaman tersebut, saat ini sambiloto banyak diteliti untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat modern, diantaranya pemanfaatan sambiloto sebagai obat HIV dan anti kanker. Dewasa ini masyarakat cenderung mengkonsumsi obat secara alami yaitu berasal dari tanaman. Hal tersebut disebabkan obat yang berasal dari tanaman mempunyai efek samping (side effect) lebih kecil dibandingkan obat berasal dari bahan kimia dan harga lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua bagian tanaman sambiloto, seperti daun, batang, bunga dan akar, terasa sangat pahit jika dimakan atau direbus untuk diminum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ISI

Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tanaman yang berkhasiat sebagai antiradang, antiinflamasi, dan antipiretik adalah daun sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan kimia diantaranya deoksiandrografolid, andrografolid, noeandrografolid, 12 didehidroandrografolid, dan homoandrografolid (Hariana, 2006). Pada percobaan farmakologis senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antiradang adalah andrographolid, deoksi-andrografolid, dan neoandrografolid (Achmad et al., 2007).

Sambiloto dapat tumbuh secara alami dari dataran pantai sampai dataran tinggi dengan iklim serta kondisi jenis tanah yang beragam (Yusron, 2008). Tanaman sambiloto dapat tumbuh pada semua jenis tanah, mulai dari jenis tanah yang subur, mengandung banyak humus. Tata udara dan pengairan yang baik (Pujiasmanto et al., 2007). Sambiloto pada umumnya tumbuh di alam yang ternaungi di bawah tegakan hutan (Yusron, 2008).

Klasifikasi Tanaman Kingdom :

Plantae Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae 6

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Solanaceae

Famili : Acanthaceae

Genus : Andrographis

Spesies : Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees (Ratnani dkk., 2012).

 

Daun tumbuhan sambiloto yang memiliki sifat kimiawi berasa pahit, dingin, memiliki kandungan kimia sebagai berikut: daun dan percabangannya mengandung lakton yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid dan homoandrografolid (Yuniarti, 2008). Terdapat juga flavonoid, tanin, alkana, keton, aldehid, mineral kalium (Yuniarti, 2008). Akarnya mengandung flavotioid, yang hasil isolasinya terbanyak adalah polimetoksiflavon, andrografin, panikulin, mono-0-metilwithin dan apigenin-7,4-dimetileter (Yuniarti, 2008).

KESIMPULAN

Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tanaman yang berkhasiat sebagai antiradang, antiinflamasi, dan antipiretik adalah daun sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan kimia diantaranya deoksiandrografolid, andrografolid, noeandrografolid, 12 didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Pada percobaan farmakologis senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antiradang adalah andrographolid, deoksi-andrografolid, dan neoandrografolid .

Sambiloto(Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees) mengandung senyawa diterpene, lactone, dan flavonoid. Empat senyawa lakton yang ditemukan di dalam daun sambiloto , yaitu deoxyandrographolide, andrographolide, neoandrographolide dan 14- deoxy-11, 12-didehydroandrographolide. Senyawa flavonoid banyak ditemukan pada bagian akar, tetapi juga dapat ditemukan pada bagian daun. Bagian akar dari tanaman sambiloto, mengandung senyawa flavonoid berupa polymethoxyflavone andrographine, panicoline, alkane, keton, aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik, monometilwithin, dan apigenin-7,4-dimetil eter. Bagian batang dan daun dari tanaman sambiloto mengandung senyawa alkane, keton dan aldehid.

Cara pengobatan yang efektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus selain obat-obatan sintetik, kini banyak dikenal obat-obat antidiabetik herbal seprti ekstrak etanol herba sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan orthosiphon glukosa, minyak atsiri, saponin, polifenol, flavonoid, sapofonin, garam kalium dan myonositol. Andrografolid merupakan kandungan utama dari herbal sambiloto yang dapat meningkatkan penggunaan glukosa otot pada tikus yang dibuat diabetes dengan streptozotosin (STZ) melalui stimulasi glucose transporter-4 (GLUT-4) sehingga menurunkan kadar glukosa plasma tikus.

 

SARAN

 

Semoga lebih di kembangkan lagi manfaat dari daun sambiloto untuk para generasi selanjutnya karena saya yakin masih banyak manfaatnya dan harus banyak mencari referensi dari daun sambiloto.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Herbal Indonesia. Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dewi, N. (2013). Khasiat & Cara Olah Sambiloto untuk Menumpas Berbagai Penyakit. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Heyne, K.,1987,Tumbuhan Berguna Indonesia, Volume II, Yayasan Sarana Wana Jaya : Diedarkan oleh Koperasi Karyawan, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.

Madhav, Apsara dan P. B. Pushpalatha. 1995. Characterization of Pectin Extracted from Different Fruit Wastes. Journal of Tropical Agriculture, 40 (1995) : 53 - 55.

Media Litbangkes. 2016.Vol. 26 No. 2 HAL 77 - 84

Prapanza E. Dan Marianto LM. (2003). Khasiat & Manfaat Sambiloto: Raja Pahit Penakluk Aneka Penyakit. AgroMedia Pustaka. Hal: 3–9.

Ratnani DR., Hartati, I., Kurniasari, L., 2012, “Potensi Andrographolide dari Sambiloto (Andrographis Paniculata Ness) Melalui Proses Ekstraksi Hidrotropi” Majalah Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang, Momentum Vol 8, april 2012.

Sutarno, T. 1999. Budidaya Ternak Perah. Universitas Terbuka. Jakarta.

Widyawati, T. 2007. Aspek Farmakologis Sambiloto (Andrographis paniculata Ness). Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40, No.3.

Yusron M, M. Januwati M, E. R. Pribadi. 2005. Budidaya tanaman sambiloto. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Bogor

Yuniarti, T, Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional, Cetakan Pertama MedPress, Yogyakarta.2008

 

 

 


Kamis, 19 Maret 2020

sambiloto


sambiloto
Halo sobat!!!
Selamat datang di blogku 
Terimakasih sudah mau mampir di blog ini yah sobat sobat ku


            Sekarang aku ingin membahas nih tentang obat tradisional yang ada di alam dan bisa menjadi tanaman obat keluarga (Toga) sebenarnya sih banyak tanaman tanaman di alam ini yang bisa dijadikan obat obatan tradisional,tapi untuk kali ini aku  ingin membahas tentang apasih itu tanaman sambiloto. kalian pasti banyak yang belum mengetahui apa sih itu sambiloto? apakah kamu tahu bahwa sambiloto itu adalah tanaman obat yang memiliki banyak manfaat loh ,sebelum ke manfaat mari kita kenalan dengan sambiloto ini.


            Jadi sobatku Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tanaman yang berkhasiat sebagai antiradang, antiinflamasi, dan antipiretik adalah daun sambiloto. Daun sambiloto memiliki kandungan kimia diantaranya deoksiandrografolid, andrografolid, noeandrografolid, 12 didehidroandrografolid, dan homoandrografolid (Hariana, 2006). Pada percobaan farmakologis senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antiradang adalah andrographolid, deoksi-andrografolid, dan neoandrografolid (Achmad et al., 2007).


            Sambiloto merupakan tumbuhan tegak yang berukuran 40 cm sampai 90 cm. Cabang berbentuk segi empat dan tidak berambut, percabangan banyak dengan letak yang berlawanan. Bentuk daun lanset, panjang daun 3 cm sampai 12 cm dan lebar daun 1 cm sampai 3 cm, panjang tangkai daun 5 mm sampai 25 mm, ujung dan pangkal daun tajam atau agak tajam, tepi daun rata. Perbungaan tegak bercabang-cabang, panjang kelopak bunga 3 mm sampai 4 mm, bunga berbibir berbentuk tabung, bibir bunga bagian atas berwarna putih atau berwarna kuning 7 dengan ukuran 7 mm sampai 8 mm, bibir bunga bawah lebar berbentuk biji berwarna ungu dengan panjang 6 mm (Depkes RI, 1979).


Daunnya berwarna hijau dan merupakan daun tunggal yang saling berhadapan, berbentuk pedang (lanset) dengan tepi rata (integer) dan permukaannya halus. Bunganya berwarna putih keunguan, berbentuk jorong (bulat panjang), dengan pangkal dan ujung bunga yang lancip. Buahnya juga berbentuk jorong dengan ujung yang tajam dan panjang buah lebih kurang 2 cm.
Di India, bunga dan buah sambiloto bisa dijumpai pada bulan Oktober atau antara Maret sampai Juli. Di Australia bunga dan buah bisa dijumpai antara bulan November sampai bulan Juni tahun berikutnya. Sedangkan di Indonesia bunga dan buah sambiloto bisa dijumpai sepanjang tahun.
Sambiloto dilaporkan memiliki efek farmakologis yang luas. Secara kimia sambiloto mengandung diterpen, flavonoid, stigmasterol, alkane, keton, aldehid dan mineral (kalsium, natrium, kalium) (Rosidah et al., 2012).
Tumbuhan semusim, tinggi 50-90 cm, batang disertai banyak cabang berbentuk segi empat dengan nodus yang membesar. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi merata, permukaan atas hijau daun, panjang 2- 8 cm, lebar 1-3 cm. Perbungaan rasemosa yang bercabang membentuk malai, keluar dari ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir berbentuk tabung; kecil-kecil, warnanya putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panjang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal dan ujung tajam, bila masak akan pecah membujur menjadi 4 keping, dan biji gepeng, kecil-kecil, warnanya coklat muda (Wondinu dkk., 2007).


     
Gambar daun sambiloto
Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.tokopedia.com


REFERENSI

Achmad, et al. (2011). Karakter Morfologis dan Genetik Jamur Tiram (Pleurotus spp.). J. Hort. Vol (21) : 3. Hlm 225-231

Afizia, Wila M, Rosidah, 2012. Potensi ekstrak daun jambu biji sebagai antibakterial untuk menanggulangi serangan bakteri aeromonas hydrophila Pada ikan gurame (osphronemus gouramy lacepede). Jurnal Akuatika, 3(1): 1-9. 

Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III, 378, 535, 612. Jakarta.

Hariana, A.2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta : Penebar Swadaya

Wondinu, T., Asfaw, Z., dan Kelbessa, E. 2007. Ethnobotanical study of medicinal plants around Dheeraa Town, Arsi Zone, Ethiopia. Journal of Ethnopharmacology. 112(04):152-161. 





Sekian dari aku sobat-sobat ,
Kupu kupu di atas awan
See you next time kawan